JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan laba bersih individu sebesar Rp 3,90 triliun pada Agustus 2026, yang menunjukkan pertumbuhan 16,14% secara bulanan. Secara kumulatif, laba bersih BRI sepanjang delapan bulan pertama 2026 (8M26) mencapai Rp 34,77 triliun, naik 6,63% secara tahunan.
Kinerja BBRI hingga Agustus 2026 masih terjaga positif. Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit masih tumbuh tinggi dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) lebih ekspansif, sehingga ruang likuiditas kini menjadi lebih luas. Namun demikian, tekanan pada margin bunga bersih (NIM) menjadi sinyal yang perlu dicermati, karena NIM perseroan justru jatuh di bawah level 6% untuk pertama kalinya.
Mengutip laporan keuangan BRI pada Minggu (27/9/2026), penyaluran kredit perseroan masih dipacu dengan pertumbuhan sebesar 13,66% yoy menjadi Rp 1.446,98 triliun. Kinerja kredit tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan perbankan nasional sebesar 13,65% yoy pada Agustus 2026, berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI).
Meski masih di atas rata-rata industri, penyaluran kredit BBRI itu menandai perlambatan setelah mencatat pertumbuhan 14,48% yoy pada Juli 2026, yang merupakan posisi tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Pendapatan bunga tercatat berhasil merangkak naik 0,22% yoy menjadi Rp 109,66 triliun, setelah mencatat penurunan dalam tiga bulan sebelumnya. Sementara itu, beban bunga turun 6,70% yoy menjadi Rp 32,41 triliun.
Pendapatan bunga bersih (NII) bank tercatat tumbuh 3,44% yoy menjadi Rp 77,25 triliun untuk periode 8M26. Tren pertumbuhan NII konsisten melambat, seiring pendapatan bunga yang belum sepenuhnya pulih sejak awal tahun, sementara beban bunga bergerak ke arah normalisasi setelah sempat turun pada awal tahun.
Hal tersebut juga tecermin dari margin bunga bersih (NIM) yang terus menyusut. NIM jatuh ke level 5,94% untuk periode 8M26, sementara untuk posisi Agustus saja tercatat sebesar 5,32%. Posisi ini semakin menjauh dari sasaran skala grup yang sebesar 7,4-7,8% untuk FY26. Meski begitu, NIM BRI masih menjadi yang tertinggi dari tiga bank lain di KBMI 4.
Kinerja NIM diperkirakan tetap menantang bagi BBRI ke depan, seiring era suku bunga tinggi yang diperkirakan berlangsung lama (higher for longer). Terlebih, bank sedang gemar menghimpun dana mahal sebagai bagian dari menjaga likuiditas. Di sisi lain, pemerintah terus mendesak bank memberikan bunga rendah untuk mendukung aktivitas perekonomian.
Biaya Kredit dan Likuiditas
Selain NIM yang tertekan, lonjakan biaya provisi juga menjadi tantangan lain bagi aspek profitabilitas BRI. Pos ini tercatat meningkat 8,90% yoy menjadi Rp 29,94 triliun.
Namun demikian, rasio biaya kredit (CoC) terjaga di posisi 3,23% pada 8M26, hanya sedikit di atas guidance grup di kisaran 2,9-3,2% untuk FY26.
Dari sisi pendanaan, kinerja dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 1.655,84 triliun atau melonjak 12,59% yoy per Agustus. Kinerja DPK ini melanjutkan tren sejak bulan sebelumnya yang mulai bertumbuh double digit sebesar 11,00% yoy.
Perkembangan DPK itu terutama didorong oleh instrumen deposito sebesar Rp 582,74 triliun, melesat 15,04% yoy per Agustus. Selain itu, pos tabungan tumbuh tinggi 14,24% yoy menjadi Rp 623,72 triliun. Sedangkan giro naik 7,46% yoy menjadi Rp 449,36 triliun.
Dengan tren tersebut, rasio dana murah (CASA) BRI harus menyusut ke posisi 64,81% pada Agustus, lebih rendah dari level puncaknya sebesar 70,79% pada April. Secara nominal, CASA BRI menembus Rp 1.073,09 triliun.
Seiring ekspansi dana, likuiditas BBRI yang dipotret dari indikator loan to deposit ratio (LDR) bergerak menjadi sebesar 87,39% per Agustus. Posisi LDR tersebut menjadi yang terendah sepanjang tahun ini, sehingga memungkinkan bagi bank untuk melanjutkan ekspansi kredit di masa mendatang.
Adapun pada perdagangan Jumat (25/9/2026), saham BBRI naik 10 poin (0,32%) ke posisi 3.150. Namun demikian, saham BBRI tercatat masih merosot 13,93% secara tahun berjalan (ytd).