Investor Asing Jual Saham GOTO, Namun Ada Angin Segar dari Dana Swedia

JAKARTA – Investor asing kembali melakukan aksi jual bersih atau net sell di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 5 Oktober 2026. Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi salah satu emiten yang paling banyak dilepas oleh investor asing.

Secara total, net sell asing di seluruh pasar pada hari itu mencapai Rp 115,7 miliar. Angka ini menambah total net sell asing sepanjang tahun berjalan menjadi Rp 82,6 triliun, berdasarkan data BEI. Saham GOTO tercatat mengalami net sell asing terbesar di pasar reguler sebesar Rp 115,7 miliar, menyebabkan harganya melemah 3,3% ke level Rp 29 pada penutupan perdagangan.

Selain GOTO, investor asing juga tercatat banyak melepas saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp 71,2 miliar. Di sisi lain, transaksi beli bersih atau net buy terbanyak oleh investor asing terjadi pada saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 86,8 miliar.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat tajam sebesar 81,9 poin atau 1,36% ke level 6.118,8. Perdagangan hari itu melibatkan 547 saham yang menguat, 164 saham melemah, dan 252 saham stagnan, dengan total nilai transaksi mencapai Rp 9,9 triliun.

Angin Segar Bagi GOTO

Di tengah tren jual asing, muncul kabar baik bagi GOTO. Dana investasi asal Swedia, Coeli Asset Management, untuk pertama kalinya masuk ke pasar saham Indonesia dengan membeli saham GOTO dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Keputusan ini diambil saat IHSG mengalami koreksi sekitar 30% sepanjang tahun berjalan dan valuasi sejumlah emiten terkoreksi jauh dari rata-rata historisnya.

Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, menilai bahwa waktu masuknya investor asing ini lebih menarik untuk dicermati dibandingkan sekadar nominal investasinya. Menurutnya, di saat pasar Indonesia kurang populer di mata investor global dan rupiah menjadi mata uang terlemah di Asia tahun ini, investor berbasis valuasi justru mulai melihat adanya peluang.

“Koreksi tersebut membuat banyak saham diperdagangkan jauh di bawah rerata historis. Pilihan terhadap GOTO dan BBCA juga mewakili dua karakter berbeda, yakni cerita pemulihan fundamental pada GOTO serta kekuatan fundamental BBCA,” kata Jason di Jakarta, Senin (5/10/2026).

Coeli Asset Management telah mengamati pasar Indonesia selama beberapa tahun, namun sebelumnya menilai valuasinya terlalu mahal. Koreksi pasar kali ini mendorong pengelola dana yang berbasis di Stockholm tersebut untuk meningkatkan alokasi Indonesia hingga hampir 6% dari portofolio dan memilih GOTO serta BBCA.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan GOTO, RA Koesoemohadiani, menyatakan bahwa perseroan meyakini harga sahamnya saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menguat. “Dinamika harga saham lebih disebabkan oleh berbagai aspek teknis,” ujarnya dalam sebuah keterangan.

Kinerja bisnis Grup GOTO terus menunjukkan pertumbuhan positif. Pada kuartal II-2026, perseroan kembali mencetak laba bersih sebesar Rp 252 miliar, menandai laba selama dua kuartal berturut-turut. Pendapatan bersih GOTO tercatat sebesar Rp 5,7 triliun, sementara EBITDA yang disesuaikan mencapai lebih dari Rp 1 triliun.

Perseroan juga diklaim tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai panduan EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh sebesar Rp 3,2-3,4 triliun. GOTO tetap fokus memperkuat kinerja bisnisnya, yang diyakini akan menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham.

Koesoemohadiani menambahkan, terkait tindakan korporasi, GOTO telah memperoleh persetujuan untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback dengan alokasi dana sebesar Rp 3,5 triliun untuk periode 19 Juni 2026 sampai dengan 18 Juni 2027.

Tinggalkan komentar