Analis pasar modal, Hendra Wardana, memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil. Hal ini dikarenakan pasar membutuhkan waktu untuk mencerna dampak dari perombakan kabinet (reshuffle) yang dinilai cukup besar.
Menurut Hendra, pelemahan IHSG yang terjadi sebelumnya tidak bisa semata-mata dibaca sebagai respons negatif terhadap reshuffle. Pelemahan tersebut merupakan kombinasi dari ketidakpastian kebijakan domestik, pelemahan nilai tukar rupiah, arus dana asing yang masih keluar (net sell), serta tekanan eksternal dari harga minyak yang kembali mendekati US$ 100 per barel.
Sebelumnya, IHSG tercatat turun 1,02% ke level 6.009,50 dan sempat menyentuh area 5.900 sebelum kembali ditutup di atas level psikologis 6.000. Pada saat yang sama, rupiah melemah 0,40% ke angka Rp 17.966 per dolar Amerika Serikat.
Hendra menegaskan, investor asing masih mencatat posisi jual bersih (net sell) sekitar Rp 240 miliar. Secara kumulatif, net sell asing di pasar reguler sepanjang tahun berjalan telah mencapai sekitar Rp 107,4 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar domestik bukan hanya berasal dari sentimen reshuffle, melainkan merupakan persoalan arus modal yang sudah berlangsung cukup panjang.
Dari sisi reshuffle, pasar biasanya akan melakukan penilaian bukan hanya berdasarkan siapa yang masuk dan siapa yang keluar dari kabinet. Penilaian utama lebih difokuskan pada arah kebijakan ekonomi setelah perubahan tersebut terjadi.
Investor akan mencermati apakah susunan kabinet baru mampu memberikan kepastian mengenai kebijakan fiskal, investasi, hilirisasi, daya beli masyarakat, pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia.
Dalam jangka sangat pendek, perubahan besar dalam kabinet justru dapat meningkatkan ketidakpastian (uncertainty). Hal ini disebabkan investor membutuhkan waktu untuk mengetahui siapa pengambil keputusan utama dan bagaimana prioritas kebijakan akan dijalankan oleh menteri yang baru.
Namun, jika dalam beberapa hari atau minggu ke depan pemerintah mampu memberikan sinyal kebijakan yang jelas, menjaga kesinambungan program ekonomi yang sudah berjalan, dan menunjukkan koordinasi yang kuat, maka ketidakpastian tersebut berpotensi berkurang. “Jadi menurut saya, pasar tidak seharusnya melihat reshuffle hanya dari sisi pergantian figur, tetapi dari seberapa cepat pemerintah memberikan kepastian mengenai arah kebijakan ekonomi ke depan,” ujar Hendra.
Untuk perdagangan hari ini, level 6.000 menjadi area psikologis yang sangat penting. Selama IHSG mampu bertahan di sekitar level tersebut, masih ada peluang terjadi technical rebound setelah mengalami penurunan dalam empat hari perdagangan berturut-turut. Namun, jika level 6.000 kembali ditembus secara meyakinkan dan tekanan jual meningkat, pasar perlu mewaspadai pelemahan lanjutan menuju area 5.900.
Sebaliknya, untuk mengubah tekanan jangka pendek menjadi sinyal pemulihan, IHSG perlu kembali melewati area 6.100–6.150 dengan dukungan volume transaksi yang membaik dan peningkatan breadth pasar. “Jadi untuk hari ini, saya melihat ruang rebound tetap ada, tetapi sifatnya masih rebound teknikal dan belum bisa langsung dianggap sebagai perubahan tren, karena arus dana asing masih negatif dan rupiah masih berada di level yang relatif lemah,” ungkapnya.
Faktor eksternal juga tidak boleh diabaikan. Harga minyak mentah Brent yang kembali mendekati US$ 100 per barel menjadi tantangan bagi Indonesia. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi, memperbesar kebutuhan dolar untuk impor energi, dan pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah.
Jika rupiah terus melemah, ruang Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter juga menjadi lebih terbatas karena harus tetap menjaga stabilitas nilai tukar. Hal ini penting bagi pasar saham karena biaya modal, valuasi, dan persepsi investor asing sangat sensitif terhadap pergerakan rupiah dan yield obligasi.
Oleh karena itu, meskipun data ekonomi Amerika Serikat yang lebih lemah memberikan ruang bagi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed, keuntungan tersebut belum otomatis mengalir ke pasar Indonesia apabila risiko domestik dan tekanan rupiah masih lebih dominan.
“Ke depan, saya melihat kunci pemulihan IHSG ada pada tiga hal, yaitu stabilitas rupiah, perubahan arah foreign flow, dan kemampuan pemerintah memberikan kepastian kebijakan pasca-reshuffle,” ucapnya.
Selama investor asing masih terus melakukan net sell dan secara year-to-date sudah mencapai sekitar Rp 107,4 triliun di pasar reguler, pasar akan sulit membangun reli yang kuat dan berkelanjutan. Pelemahan IHSG kemarin terjadi ketika sebagian besar bursa Asia justru menguat, sehingga menunjukkan bahwa faktor domestik masih cukup dominan dalam menentukan pergerakan IHSG.
Karena itu, investor disarankan untuk tidak terburu-buru menganggap setiap rebound sebagai awal dari bull market baru. Pasar masih berada dalam fase mencari keseimbangan. Pendekatan yang lebih rasional adalah mencermati saham-saham dengan fundamental kuat, likuiditas baik, dan valuasi yang sudah lebih masuk akal, sambil menunggu konfirmasi bahwa tekanan jual asing mulai mereda dan rupiah mulai stabil.