6 Saham Big Cap dengan Valuasi Menarik dan ROE Baik

Sebanyak enam saham berkapitalisasi pasar besar atau big cap saat ini menunjukkan valuasi yang menarik dengan return on equity (ROE) yang baik. Saham-saham tersebut meliputi BMRI, INDF, BBNI, ASII, ADRO, dan BRIS.

Berdasarkan data Stockbit Sekuritas yang diakses pada Minggu, 27 September 2026, rasio price to earnings (PE) saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tercatat sebesar 6,12 kali berdasarkan data trailing twelve months (TTM). Sementara itu, rasio PE (TTM) PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) berada di angka 6,19 kali, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar 6,31 kali, dan PT Astra International Tbk (ASII) di 6,37 kali.

Lebih lanjut, saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) memiliki rasio PE (TTM) sebesar 7,64 kali, sedangkan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mencatatkan 8,73 kali.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 25 September 2026, saham BMRI menguat 0,2% ke level Rp 4.080. Saham INDF mengalami penurunan 2,8% ke posisi Rp 6.750, dan BBNI terkoreksi 0,5% ke Rp 3.500. Saham ASII ditutup melemah 1,6% ke Rp 4.690, ADRO naik 1,5% ke Rp 2.600, sementara BRIS anjlok 3,2% ke Rp 1.510.

Saham Pilihan hingga Akhir 2026

Dalam tinjauan yang berbeda, Kiwoom Sekuritas Indonesia merekomendasikan enam saham yang dinilai tetap relevan hingga akhir tahun 2026, meskipun dihadapkan pada tekanan suku bunga tinggi dan volatilitas pasar. Saham-saham yang menjadi pilihan adalah ANTM, KLBF, BBNI, BBRI, JSMR, dan BRIS.

Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa keenam saham ini menawarkan kombinasi perlindungan nilai komoditas, kinerja defensif, eksposur terhadap bank-bank besar, serta aliran kas berulang atau recurring cash flow.

Kiwoom Sekuritas menetapkan target harga untuk saham ANTM di Rp 4.800, KLBF di Rp 970, BBNI di Rp 4.100, BBRI di Rp 3.600, JSMR di Rp 3.850, dan BRIS di Rp 2.700.

Liza menekankan pentingnya investor untuk lebih selektif di tengah kondisi suku bunga yang tinggi. Ia menyarankan agar perhatian investor difokuskan pada perusahaan dengan neraca keuangan yang sehat, laba yang terukur, valuasi yang masuk akal, dan likuiditas yang memadai.

“Di era suku bunga tinggi, kami lebih mengutamakan quality first, yaitu balance sheet yang sehat, earnings yang nyata, valuasi masuk akal, dan likuiditas baik,” ujar Liza dalam catatannya.

Ia menambahkan bahwa investor sebaiknya menghindari emiten yang memiliki tingkat utang tinggi, free float rendah, serta narasi pertumbuhan yang belum didukung oleh laba. Strategi investasi yang lebih tepat adalah melakukannya secara bertahap ketika valuasi dan perbandingan antara risiko dengan potensi imbal hasil sudah terlihat menarik.

Tinggalkan komentar