PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kini memasuki era baru setelah sahamnya tidak lagi dibatasi pada harga minimum Rp 50 per lembar. Pergerakan harga saham GOTO kini menghadapi tantangan dalam menemukan harga pasar yang baru, di tengah masih tingginya tekanan jual dan upaya investor untuk mengevaluasi kembali fundamental bisnis perusahaan.
Pada awal perdagangan setelah batas harga Rp 50 dicabut, tekanan jual saham GOTO terpantau sangat signifikan, dengan volume perdagangan mencapai sekitar 1 miliar lot per hari. Situasi ini membuat investor menanti apakah tekanan jual akan segera mereda atau justru berlanjut, yang akan menentukan titik keseimbangan harga baru.
Edo, seorang analis pasar modal dari Phillip Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa pergerakan awal saham GOTO setelah terlepas dari batas bawah Rp 50 berpotensi mengalami volatilitas. Menurutnya, terbukanya ruang pergerakan harga ini memungkinkan saham GOTO menemukan harga pasar yang lebih akurat mencerminkan mekanisme permintaan dan penawaran.
“Kalau harga saham GOTO berada di Rp 28, pasar seolah-olah hanya menghargai aset likuidnya dan tidak memberikan nilai pada bisnis yang sedang berjalan. Padahal GOTO punya bisnis dengan pendapatan yang tumbuh dan profitabilitas yang terus membaik. Karena itu, menurut kami harga tersebut belum mencerminkan fundamental perusahaan,” ujar Edo dalam keterangan tertulisnya.
Edo menjelaskan bahwa konsensus analis saat ini menempatkan kisaran harga wajar saham GOTO di sekitar Rp 65 hingga Rp 74 per saham. Angka ini menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan antara harga pasar saat ini dan estimasi nilai berdasarkan fundamental perusahaan.
Namun, Edo menekankan bahwa selisih tersebut tidak serta-merta berarti saham GOTO akan langsung bergerak menuju kisaran harga tersebut. Pasar masih membutuhkan waktu untuk menyerap tekanan jual yang ada dan membentuk keseimbangan harga yang baru.
“Selisihnya memang lebar. Namun, potensi kenaikan itu baru akan lebih mudah terealisasi ketika tekanan jual mereda dan investor kembali menilai GOTO berdasarkan kinerja bisnisnya,” kata dia.
Perkembangan Fundamental GOTO
Di tengah gejolak harga saham, perkembangan kinerja operasional GOTO menjadi salah satu faktor penting yang akan dicermati oleh investor. Perusahaan tercatat telah berhasil membukukan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut.
Pada kuartal II-2026, pendapatan bersih perseroan mencapai Rp 5,7 triliun. Pada periode yang sama, EBITDA Grup yang disesuaikan berhasil menembus angka Rp 1 triliun untuk pertama kalinya.
Untuk keseluruhan tahun 2026, GOTO menargetkan EBITDA Grup yang disesuaikan mencapai Rp 3,2 hingga Rp 3,4 triliun. Target ini menjadi salah satu indikator penting yang akan diperhatikan pasar untuk mengukur keberlanjutan perbaikan profitabilitas perusahaan.
Menurut Edo, perkembangan ini menunjukkan bahwa penilaian terhadap GOTO tidak hanya dapat dilihat dari pergerakan harga saham dalam jangka pendek. Perbaikan pendapatan dan profitabilitas merupakan bagian krusial dalam menentukan bagaimana pasar akan menilai bisnis perseroan ke depannya.
“Sulit mengatakan GOTO tidak memiliki nilai bisnis ketika operasinya menghasilkan pendapatan triliunan rupiah dan profitabilitasnya membaik. Pada harga Rp28, saham ini terlihat murah apabila kemajuan tersebut dapat dipertahankan,” ujarnya.
Aksi Korporasi GOTO
Selain perbaikan kinerja, perhatian investor juga tertuju pada aksi korporasi yang akan dilakukan oleh GOTO. Perseroan telah memperoleh persetujuan untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai maksimal Rp 3,5 triliun.
Aksi buyback ini memberikan ruang bagi perseroan untuk membeli kembali saham sesuai dengan ketentuan yang berlaku, serta mempertimbangkan kondisi pasar yang ada.
GOTO juga mengusulkan pembatalan sekitar 32 miliar lembar saham treasuri. Jika aksi ini disetujui dan direalisasikan, jumlah saham beredar perseroan akan mengalami pengurangan.
Kombinasi antara aksi buyback, pembatalan saham treasuri, serta perkembangan laba dan arus kas akan menjadi sejumlah faktor penting yang dicermati investor dalam menilai prospek saham GOTO setelah terlepas dari batas harga Rp 50.
Oleh karena itu, fase berikutnya bagi saham GOTO bukan hanya tentang seberapa jauh harga dapat bergerak setelah terbebas dari “gocap”, tetapi juga bagaimana pasar dapat menyerap tekanan jual dan menerjemahkan perbaikan kinerja operasional ke dalam valuasi saham.
Dalam jangka pendek, volatilitas masih mungkin terjadi selama tekanan jual belum sepenuhnya terserap. Namun, perkembangan kinerja bisnis, pencapaian target EBITDA, serta pelaksanaan aksi korporasi akan menjadi faktor penentu dalam proses pembentukan harga baru saham GOTO.